Di sebuah siang yang basah di Sumatera Barat, seseorang memikul karung beras. Ia melangkah pelan di antara rumah-rumah yang digenangi air, sementara bau lumpur dan rasa genting menempel di udara. Yang tampak sederhana sering justru memicu silang tafsir.
Di jagat sosial media yang retak dan riuh, satu gestur kecil dapat berubah menjadi arena pertengkaran. Begitulah ketika Menko Pangan, Zulkifli Hasan, ikut memanggul karung bantuan saat banjir.
Sebuah tindakan yang, alih-alih menerima ruang hening untuk dimaknai, langsung disapu badai sinisme.
Barangkali ini zaman yang kikuk membaca ketulusan. Kita hidup di era ketika informasi melesat cepat, tapi kebenaran terengah-engah mengejar. Post-truth, kata para ilmuwan, bukan cuma gejala, tapi atmosfer.
Di dalamnya, apa pun rentan dituduh palsu. Bahkan keteladanan yang dulu kita kenal sebagai nurani dalam wujud sehari-hari kini bisa terasa janggal.
Kita memandangi sebuah tindakan tanpa lagi mampu membedakan empati dari pencitraan. Seakan-akan tak ada ruang di antara keduanya.
Namun, di bahu seorang pejabat, karung itu bukan sekadar beras. Ia adalah beban keteladanan. Beratnya bukan pada kilogram, tetapi pada risiko ditertawakan, dicibir, disindir. Beban itu menempel pada diri siapa saja yang bergerak di tengah publik yang letih dan curiga.
Publik yang telah lama terjebak dalam arus polarisasi, di mana pikiran dan prasangka bertarung tanpa henti.
Kita jarang jujur pada diri sendiri: pasokan keteladanan bangsa ini memang menipis. Dalam percakapan sehari-hari, kita lebih akrab dengan rasa getir dibanding harapan.
Dalam ruang digital, ironi lebih cepat viral dibanding apresiasi. Dalam politik, keterbelahan membuka celah bagi kecurigaan yang seakan-akan tak ada selesainya.
Ketika pemimpin melakukan kesalahan, kita cepat menghukumnya. Ketika ia berbuat sesuatu yang benar, kita pun cepat mencurigainya.
Ia tak lagi berhadapan dengan kritik, melainkan dengan sebuah atmosfer psikologis: bangsa yang menolak percaya.
Zulkifli Hasan, tentu, bukan tokoh suci. Ia manusia dengan biografinya, langkah-langkahnya, juga kekeliruannya. Tapi keteladanan tak pernah lahir dari sosok yang bebas cela.
Keteladanan justru lahir ketika seseorang berani berbuat baik di tengah risiko disalahpahami.
Tindakan memanggul karung itu mungkin kecil namun kecil bukan berarti hampa. Di negara yang letih oleh slogan, gestur kecil kadang lebih jujur daripada pidato panjang.
Dalam The Human Condition, Hannah Arendt menulis bahwa tindakan manusia hanya bisa dibaca melalui ruang publik. Kita hidup, bergerak, dan dimaknai dalam pandangan orang lain.
Pada titik itulah, tindakan sederhana dapat berubah menjadi simbol. Ia bukan lagi soal berat beras, melainkan tentang keberanian melakukan sesuatu yang rentan diejek.
Arendt menyebutnya action: sebuah keberanian tampil, mengambil risiko ditafsirkan salah, dan tetap melangkah. Sebuah tindakan yang menolak dunia yang serba sinis.
Di Jepang, ada kisah Shinzo Abe muda yang mendatangi korban gempa Kobe pada 1995 sebagai pejabat junior. Ia membawa sendiri selimut-selimut bantuan yang ia tumpuk di punggung, berjalan dari satu tenda ke tenda lain.
Banyak yang mengira itu sekadar ritual politisi. Tapi para korban mengingatnya sebagai perhatian yang sederhana namun tulus: seorang pejabat yang turun tanpa protokol rumit, tanpa kamera khusus, hanya dengan tangan yang berusaha berguna.
Atau kisah Jacinda Ardern di Selandia Baru, yang datang ke Christchurch setelah tragedi 2019. Ia memeluk korban, berjalan dengan langkah pelan, tanpa pengawalan mencolok.
Ada kritik, tentu. Ada yang menyebutnya dramatis. Namun, seperti dicatat banyak pengamat, sikap itu menunjukkan jenis kepemimpinan yang tak berjarak empati yang diwujudkan dengan tubuh, bukan sekadar kata-kata.
Di Afrika Selatan, Nelson Mandela pernah menanam pohon bersama anak-anak desa di KwaZulu-Natal. Ia melakukannya sendirian di bawah terik matahari ketika banyak pemimpin lain memilih tinggal di tenda acara resmi.
Ia mencangkul tanah, memegang batang pohon, dan menutupnya dengan tanah. Gestur kecil itu dipuji oleh sebagian orang, diremehkan sebagian lainnya.
Tapi keteladanan bekerja diam-diam. Ia menyapa nurani kita, sering baru terasa setelah bertahun-tahun.
Kisah-kisah itu bukan untuk membandingkan. Hanya untuk mengingatkan bahwa tindakan kecil para pemimpin dunia pun pernah dicibir namun, pada akhirnya, justru meninggalkan gema panjang.
Di Indonesia hari ini, skeptisisme telah menjelma struktur. Kita bisa melihatnya di balik komentar-komentar pedas, meme-meme sinis, dan kalimat-kalimat yang cepat menghukum.
Kita menertawakan, tapi bagian dari diri kita diam-diam lelah. Bangsa tidak rusak hanya oleh hutan yang kian gundul, oleh air sungai yang meluap, atau oleh pejabat yang korup.
Ia juga rusak oleh sikap kita sendiri yang semakin cepat mencurigai, semakin malas memberi manfaat keraguan, semakin gemar menyederhanakan orang lain ke dalam label yang mematikan imajinasi.
Di tengah kondisi itu, sikap memanggul karung menjadi semacam perlawanan kecil. Perlawanan terhadap dunia yang ingin membuat semua tindakan kehilangan makna.
Perlawanan terhadap budaya mencemooh. Perlawanan terhadap kemalasan berpikir yang ingin menilai segalanya dengan diksi tunggal: “pencitraan”.
Dalam Leviathan, Thomas Hobbes pernah menulis bahwa masyarakat membutuhkan simbol-simbol kepemimpinan agar tak terjerumus dalam kegelapan saling mencurigai.
Mungkin kita sudah terlalu lama hidup dalam kegelapan itu. Terlalu sering menertawakan, terlalu sedikit merawat kepercayaan.
Kita tak sedang menjalankan demokrasi deliberatif ala Habermas; kita lebih mirip kerumunan yang bereaksi spontan di ruang digital tanpa sempat menimbang niat baik.
Barangkali, di titik inilah, kita perlu menoleh sebentar. Mengingat bahwa bangsa tumbuh bukan hanya oleh kerja besar, tapi juga oleh gestur kecil yang tak menuntut tepuk tangan.
Gestur yang mengingatkan bahwa di balik jabatan tetap ada manusia. Dan di balik manusia, selalu ada kemungkinan untuk berbuat baik.
Mungkin karung itu memang berat. Namun yang lebih berat adalah memikul harapan bangsa yang kian sulit percaya. Berat, tetapi tetap harus dipanggul.
Karena jika tidak, kita akan kehilangan satu hal yang membuat bangsa mampu bertahan dari zaman ke zaman: teladan.
Dan teladan, sekecil apa pun langkahnya, layak diberi ruang untuk hidup.
Munir Sara (Penulis lepas)